Senin, 09 Desember 2013

Aku Gak Mau Korupsi, Mama

Hari Anti Korupsi Indonesia? Ah, ada sesuatu yang aku ingat tentang korupsi sewaktu aku masih kecil, masih SD.

***


Tahun 1998, aku masih sangat kecil untuk mengerti apa itu korupsi. Saat itu, nama korupsi ada di mana-mana. Di TV, di radio, di koran. Dan semua orangpun sibuk membicarakannya.

Sebelum pergi ke sekolah, aku punya kebiasaan mengacak-acak koran. Bukan membaca setiap berita seperti kebanyakan orang dewasa. Aku membaca hanya halaman depan, dengan tulisan paling besar. Tertulis, "Korupsi adalah bahaya laten." pada saat itu, kata-kata korupsi dan bahaya laten susah dimengerti.

Dalam perjalanan pulang dari sekolah ke rumah, semua orang membicarakan korupsi. Termasuk tukang jualan es teh, gorengan, dan mainan di sekolah. Semua orang seperti sedang sibuk dengan 'korupsi'.


Lalu, saat tiba waktu belajar malam bersama kedua kakakku, aku tanya Mama, "Mama, korupsi itu apa?"
Mama, hanya tersenyum, simpul dan manis. "Kamu baca di mana, Nak? Tau dari mana?" Mama bertanya dengan pelan, dia selalu berhati-hati untuk setiap pertanyaan yang putra-putrinya berikan pada. Hal itu terlihat jelas di raut mukanya. "Itu loh Mama. Aku lihat di TV, buletin siang, dunia dalam berita, katanya Pak Soeharto korupsi. Tapi kata koran, korupsi adalah bahaya laten. Aku bingung, Mama. Pak Soeharto itu Bapak Pembangunan, kenapa bisa Bapak Pembangunan membahayakan? Dia kan yang bangun gedung, jalan, bandara."

Pertanyaan itu terlalu banyak. Iya, dari sejak kecil, aku banyak bicara. Dan aku yakin, terlalu banyak yang harus dijelaskan oleh Mama. Tapi, lagi-lagi Mama tersenyum, manis, seperti biasa ketika dia menghadapi pertanyaan putra-putrinya, "Korupsi itu, berbahaya, Nak. Kamu tau apa saja hal yang tidak boleh kita lakukan? Hal-hal salah di mata Tuhan dan di mata hukum, Nak? Coba kamu sebutkan."

"Hal-hal yang salah di mata Tuhan dan hukum? Mencuri?"

"Iya betul mencuri, mencuri adalah salah satu contoh dari korupsi. Apalagi coba?"

"Hmm, membunuh? Rampok? Copet? Aduh kok aneh, Mama. Terus apa bedanya mencuri dengan korupsi kenapa namanya harus berbeda?"

Mama mengkerutkan alisnya. Iya Mam, aku terlalu banyak cakap. Lalu kemudian senyumnya terbentuk kembali. "Kamu tau? Kamu terlalu pintar untuk anak seusiamu."

"Iya dong Mama, aku kan rangking satu terus. Kan aku anak Mama. Anak Mama semua pintar, Aa, Teteh, semua pintar. Lagian kan gak ada anak yang bodoh. Tapi walau aku pintar aku gak boleh sombong dan harus selalu belajar." 

Terus menerus mulutku mengoceh. Aku bayangkan sekarang, Mama dulu pasti bingung menghadapiku. Tapi, senyumnya semakin lebar, bukan muka jengkel yang dia tunjukkan. Dia bahagia, "Coba kamu sebutkan, apa saja yang dilakukan orang lain di sekitarmu, di sekolah dan membuat kamu sebal?"

"Apa ya? Di sekolah?"

"Iya, Nak. Apa? Coba sini kasih tau Mama."

"Waktu itu, aku punya pensil, dipinjem temen. Tapi gak dikembalikan sampe sekarang. Terus, waktu main galasin, temenku curang. Aku sebel. Aku nangis. Padahalkan aturannya main ada, dia gak boleh curang."

Image from: granitegrok.com


Sekali lagi, senyum terukir manis di wajah Mama.

"Semua hal punya aturan apapun itu. Korupsi itu sama dengan mencuri. Tapi mencuri yang lebih besar, Nak."

"Mencuri lebih besar gimana? Aku gak ngerti. Mencuri pensil sebesar gunung, Mam?" Ah, lagi-lagi, aku bicara terlalu banyak. Untungnya Mama tidak marah, tidak jengkel, atau kesal. Mama tersenyum, selalu begitu. Lantas, Mama bertanya lagi, "Kamu tau Pak Harto yang tadi kamu sebutkan itu siapa?"

"Pak Harto itu Presiden, Bapak Pembangunan. Ada di buku PPKn aku."

"Nah, kamu bayangkan Pak Harto mencuri pensil dari semua murid di seluruh sekolah kamu. Ada berapa orang yang akan kehilangan pensilnya dan tidak bisa menulis?"

"Satu sekolahku?"

"Iya. Kalau temen kamu pinjam pensil terus tidak dikembalikan siapa yang tidak bisa menulis, Sayang?"

"Aku, aku aja."

"Itulah bedanya mencuri dan korupsi."

"Lalu, kenapa Pak Harto mau mencuri semua pensil yang ada di sekolahku? Pak Harto tidak punya pensil?"

"Pak Harto punya pensil, tapi dia mengambil punya kalian untuk keuntungannya sendiri."

"Keuntungan? Apa untungnya punya pensil semua anak di sekolah?"

"Pensilnya dia simpan untuk keuntungan sendiri. Dia pakai sendiri, dia berikan pada orang lain, tapi membiarkan teman-teman kamu tidak bisa menulis."

"Kok dia jahatin aku sama temen-temen? Emangnya dia gak punya hati?"

"Orang yang korupsi, mementingkan dirinya sendiri. Sehingga dia gak mau dengarin dan lihat orang lain kesulitan. Hatinya? Apa orang yang tidak memerdulikan orang lain punya hati? Bisa jadi sudah tidak ada."

Lalu, aku ingat, pada saat itu aku menitikkan air mata, "Mama, orang korupsi kasihan dong?"

Mama mengkerutkan dahinya, jelas sekali kerutannya. Mama bingung. "Kenapa kamu berpikir orang yang korupsi kasihan, Nak?"

"Aku kasihan, dia tidak mendengar, tidak melihat, tidak bisa juga merasakan perasaan orang lain. Buta, tuli, dan hatinya hilang. Kalau aku buta, tuli dan hatiku hilang, aku gak akan bisa bilang 'Aku sayang Mama' lagi setiap hari. Aku sedih," saat itu, air mataku mengalir deras. Mama malah tersenyum. Aku ingin bertanya kenapa Mama tersenyum pada saat aku menangis. Tapi pada saat itu, ketakutan mengalahkan segalanya. Bahkan rasa penasaranku yang masih SD.

"Iya, sayang. Orang korupsi, buta, tuli dan tidak punya hati. Kamu mau menjadi seperti mereka?"

"Enggak, enggak mau! Aku gak mau korupsi! Aku mau kaya Mama, jadi perawat yang jagain orang sakit. Atau aku mau jadi guru kaya Papa. Aku gak mau buta, tuli dan tidak punya hati. Aku gak mau gak bisa ngerasain sayangnya aku sama Mama. Aku benci korupsi."

"Jadi kamu janji, kamu gak akan korupsi sama Mama?"

"Iya, aku janji. Oh iya, kalau korupsi tidak boleh, lalu mencuri lumayan boleh?"

Mama tertawa, "Mana ada lumayan boleh? Kenapa, kok bisa bilang gitu?"

"Karena mencuri tidak membuat orang banyak rugi. Satu aja, yang dicuri."

"Mencuri itu awal dari korupsi. Mencuri satu pensil, akan membuat kamu mencuri dua-tiga-lalu semua pensil di sekolahanmu akan kamu ambil. Lalu, semua temanmu menangis dan tidak bisa menulis."

"Oh, jadi awal korupsi adalah mencuri. Iya iya. Aku mengerti."

"Kamu mengerti, benar? Ada lagi yang mau kamu tanyakan lagi?"

"Iya Mama, aku mau tanya, angin datangnya dari mana?"

Mama tersenyum lebar, dia tahu akan ada percakapan panjang lagi antara dia dan putrinya. "Kamu mau tau? Yakin? Cium dulu pipi Mama tiga kali, lalu bilang magic words-nya."

Mama minta magic words! Aku tersenyum, lebar, gigi-gigi ompongku terlihat jelas. Aku ingat, ku cium pipi mama, kiri, kanan, kiri, kanan. Empat kali! "Itu tiga kali?" tanya Mama sambil tersenyum.
"Itu empat." jawabku sambil cengengesan.

"Kenapa empat? Bukan tiga, kan Mama minta tiga?"

"Aku semakin sayang mama. Magic wordsnya diganti, bukan 'Aku sayang Mama' lagi, tapi 'Aku semakin sayang Mama' yaa, ganti yaa?"

Mama tersenyum lebar, lalu cerita tentang angin berasal dari mana berlanjut malam itu.


***

Sebuah cerita pendek untuk Hari Anti Korupsi Indonesia.

Thank you for reading.


D

17 komentar:

  1. mamanya dewi bijak banget ya, mau juga dong dapet yang empat kali :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya emang bijak banget, walaupun ini fiksi tapi memang bijak.
      Mau yang 4 kali? Boleh kak, minta ke udafanz ya wkwkw

      Hapus
  2. semoga Indonesia bisa bebas dari koruptor dan korupsi yaa

    BalasHapus
  3. ya ampuuun...imutnya kak dew...ih lucu deh, ngegemesin..polos banget :D
    aku udah posting lagi loh kaaaak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. IH aku emang imut dari kecil haha

      udah aku baca dong yang barunya ehehe

      Hapus
  4. Selamat Hari Anti Korupsi ! Berani jujur hebat !

    BalasHapus
  5. komunikasi yang bagus sekali antara mama dan anak
    anak yang penuh dengan pertanyaan dan haus akan jawaban dan mama yang dengan sabar menjelaskan dengan analogi yang dapat diterima oleh akal dan pikiran anak-anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, harus seperti itu. :)
      komunikasi seperti ini yang harus diberikan oleh orang tua, inti dari apa yang ingin saya tulis di sini sebenarnya mencontohkan bagaimana orang tua harus mengkomunikasikan suatu hal pada anak ehehe.


      thanks for coming

      Hapus
  6. bentar bentar, ini cerpen fiksi apa cerita kecilannya Dewi? agak ga percaya sih kalo kecilannya Dewi kayak gitu.. *dikeplak*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkw, kenyataannya aku emang cerewet wkwkwk
      Ada beberapa hal yang nyata di bagian cerita di atas, terutama

      "Iya Mama, aku mau tanya, angin datangnya dari mana?"

      Itu nyata! :))

      Hapus
  7. iya setuju, koruptor itu kasian banget, gak punya perasaan sama rakyat kecil yang susah payah nyari duit, eh mereka malah asik2an dengan jabatan dan gaji yang tinggi ditambah korupsi juga, gak ada otak emang para koruptor!

    BalasHapus
  8. wah, kak dewi aktif juga ya waktu kecil... sama kayak aku... sayang mama ku gak bisa sebijak itu.. palingan dijitak low banyak nanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha jangan dijitak dong mama uciiii :(

      Hapus
  9. Hope you can treat your kids, like your Mom treat you. Aamiin. :")

    BalasHapus

Wanna say something?
The comment is yours