Rabu, 11 Februari 2015

Social Media is About Being Social, Not (...)

Yes, social media is about being social, not stupid. Sejatinya, seharusnya penggunaan social media menjadikan penggunanya memiliki teman banyak dan scope pergaulan yang luas, and in the end, you will find your live easier becaus of it. But if you have a vice verse impact, then something must be wrong. 

The reverse effect is triggered by what you have done on social media. I personally witnessed someone on social media have done some stupid things, nah, many stupid things actually.

From here



Salah satu kesalahan yang biasa dilakukan di social media, up to the point that makes you looks not smart, adalah membagikan terlalu banyak info mengenai hidup kamu di akun private. Oke, itu akun pribadi, yes it is. But you do not need to keep people updates about your own personal live. Update sesekali boleh lah. We do that eventually. Gak semua orang peduli sama apa yang kamu lakukan setiap jam, menit, detik. Moreover, it is dangerous. I am not that open in my social media account. Aku jarang update aku lagi di mana, atau ngapain karena itu kadang berbahaya, unless I set it private hanya orang yanbg benar-benar dekat yang tahu. Sempat beberapa hari aku ke luar kota dan ada yang nelepon ke rumah bilang aku kena narkoba dan ditangkap polisi, padahal pada kenyataannya aku lagi santai dan main-main tanah dan pasir di pantai. Untungnya pada saat kejadian, aku lagi SMS-an sama Mama. Jadi Mama tahu beliau sedang diisengin orang.

Next, please divide between personal and professional on your social account. Both are extremely different but the differences are sometimes blurred. Update kerjaan lagi pusing yang bersifat personal, buat aku sih masih oke. Tapi ketika kamu menjelek-jelekkan perusahaan atau klien karena kamu pusing sama kerjaan, well wait, that is a big sin. Kamu bisa dicap jelek bukan cuma sama perusahaan tapi juga sama temen-temen yang ada di circle social media kamu. "Dih ini orang gini aja ngeluh," Or ever worse, karena gak jaga mulut kamu bakalan didepak dari perusahaan. It is a nitemare!

Updating something sexually nasty or immoral for me is yuck! You maybe have a great night with your partner, but do we need to know how great your night in details? We DON'T! Buat beberapa orang masalah ranjang itu private, bahkan di agama aku, masalah ranjang adalah sebuah yang harus dijaga hanya suami dan istri aja yang tahu, gak usah bawa-bawa orang lain. Mengumbar hal ini di muka publik, buat aku enggak akan bikin kamu jadi keren. Malah, I personally see it as something slutty. 

Kalau dibaca-baca dan dipikir-pikir, apa yang aku tulis di atas menggambarkan seorang attention whore, orang yang haus akan perhatian. I don't blame you for seeking someone attention. But, please do it in a right way, kalau pengen dapet perhatian dari seseorang, langsung ngomong sama orangnya. Updating social media status only for seeking someone attention is wasting time dan belum tentu juga dengan melakukan itu si 'dia' bakalan jadi ngeh.

"Gue kan kaya gitu mau liat dia peka atau enggak."

Omong kosong, lemme tell you something, we human has no ability to read someone's mind. If you want to be heard then TALK. Berhenti berpikiran bahwa kita bisa telepati. Kamu jangan kebanyakan nonton Naga di sinetron yang bisa baca pikiran, itu semua fiksi A.K.A, bukan kenyataan. Please start to live in reality. Wonderland is never always be there for you.

Well thank you for reading.

M~

PS: Masih banyak sebenernya yang mau aku tulis di sini, namun karena waktu kurang cukup, semoga nanti ada part 2 nya. Kalau kamu ada masukkan tentang apa saja yang enggak boleh dilakukan di social media, silakan tulis di bawah, ya :)

26 komentar:

  1. Aku pernah Teh curhat di blog tentang temanku yang nyebelin banget, Dan dia tahu akhirnya dia minta maaf Karena merasa bersalah, trus aku dasar juga nggak baik curhat di blog yang bisa terbaca sama orang lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenernya enggak apa-apa sih, kalau sesekali. Asal jangan keseringan :)

      Hapus
    2. Sosial media bisa mengubah sesuatu menjadi baik/buruk.

      Hapus
  2. Yg tidak boleh dilakukan di sosial media:
    Makan, minum, dan bobo siang. Karena ganggu pengguna sosmed yg lain

    BalasHapus
  3. salah satu hal yang tidak boleh dilakukan dimedia sosial adalah, menyebarkan informasi yang belum tentu kita tahu faktanya :)

    BalasHapus
  4. ini bener banget, Teh. Temenku ada yg ngeluh soal bosnya yg gini dan gitu di path, yang ternyata ada leader lain walopun bukan leadernya sendiri. kena deh walopun gak sampe di phk. kalo aku sendiri paling masih belum bis anahan kalo pengen ngeluarin unek2 di twitter, kalo uda sadar itu salah dihapus, tapi uda pernah dibaca orang :(

    BalasHapus
  5. Aku kalau lagi nonton bola pasti kebanyakan ngetwet. Kayaknya efek nggak jadi komentator kalo ya :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah itu sih gpp, itu membela keyakinan huahahahha #supporterbolahore

      Hapus
  6. hmmmm...

    namanya juga media sosial, penuh dengan drama kehidupan layaknya acara TV yang namanya infotainment itu, semakin heboh, lucu, pinter, aneh, atau bahkan sangat relijius menjadi unik :D even yang baik dan biasa aja juga punya "pasar" sendiri.

    untuk kalimat yang ini => [Updating something sexually nasty or immoral for me is yuck!] aku setuju bikin yuck sih, kecuali si oknum tsb. urat malunya putus or punya rasa eksibisionis.

    nah untuk soal pemisahan hal pribadi dan profesional seharusnya kalau pernah jadi "cewek kantoran" or "mas eksekutif" tahu dong, atau oknum tsb. mentally memang oknum yang "unik"

    nah, adalagi sih yang tidak boleh dibagikan di media sosial, menurut aku, yaitu kalau curhat soal kantor, kerjaan atau bos (eh ini sama nggak sama isu pemisahan pribadi-profesional??), sama sayang-sayangan berlebihan antara pacar-suami-istir-gebetan-selingkuhan-adik kakaan :D

    http://ardikapercha.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Sama sayang-sayangan berlebihan antara pacar-suami-istir-gebetan-selingkuhan-adik kakaan :D"

      Kalo sayang biasa boleh ya sekali-kali *angguk2*

      Hapus
  7. Banyak orang yang sok akrab di socmed. Tapi, kenyataannya enggak. Itu menyebaklan buatku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. SKSD gitu, ya? Sama aku juga kurang suka sama orang macam itu :)

      Hapus
  8. lewat sosial media kita juga jadi lebih uptodate about information, karena orang2 lebih cepat ngeposting tentang kejadian yang terjadi disekitar lewat sosial media.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya tapi rada sedikit careless kalau kita sharenya via socmed :(

      Hapus
  9. Kadang antara kebebasan berekspresi dengan kebablasan berekspresi sering kita lupa bedakan.
    Saya pun orang yg tak pernah luput dari dosa, pernah posting sesuatu yg tak senonoh di sosmed.

    BalasHapus
  10. Setuju banget dah! Aku dulu pernah juga gitu waktu awal2 punya akun di socmed. Tapi sekarang udah nggak gitu banget. Lebih sering ngeshare karya aja di socmed. Sekalian sharing sama para expert. :)

    BalasHapus
  11. Iyap kadang, justru orang mangumbar kelemahannya (ngeluh) disosial media untuk ngedapetin simpati orang lain, yang padahal belum tentu yang ngerespon twitannya itu bener-bener tulus mau bantu, so be smart :)

    BalasHapus
  12. Ditunggu part 2nya kakak... :D

    BalasHapus
  13. Dan bahkan aku pernah liat yang update suami isteri berantem dan saling menjelekan satu sama lain. gak mau liat tapi keliatan di time line... hmm.. risih sih, makanya aku skip aja...

    BalasHapus
  14. Setuju banget Mba, sebaiknya jgn terlalu open bgt di sosmed.

    BalasHapus
  15. hehehe, punya ribuan friends di sosmed, maka ribuan pula polahnya. yang norak2 dan gak bikin nyaman, aku pinggir2in aja hihihi. Tapi setuju, gak semua harus di share, gak seluruh dunia harus tau kaliiiii heheheh

    BalasHapus

Wanna say something?
The comment is yours